Gimana ya, sahabat? sebenarnya apakah sahabat itu ada?
Mengapa selama ini aku merasa bahwa tidak ada yang namanya sahabat. Mungkin teman ya, aku punya banyak teman. Mereka adalah orang yang datang saat membutuhkanku dan menghilang saat kubutuhkan. Terkadang ada sih orang yang bisa ada saat dibutuhkan, selain keluarga tentunya. Tapi itu jarang sekali aku temukan. Terlalu egoiskah aku Tuhan? Tapi aku merasa bahwa mereka yang egois.
Tuhan, aku tahu kau menciptakan orang dengan berbagai jenis watak. Tapi aku tidak bisa menerima sahabat yang bangsat. Aku merasa diinjak-injak. Aku merasa dimanfaatkan. Aku merasa dibuang setelah dibutuhkan, dihina, dicaci. Sebenarnya aku tahu mereka hanya bercanda. Tapi aku menerima semua itu terlalu sering bahkan hingga aku bosan dan muak. Aku ingin berhenti menjadi bagian dari mereka tapi aku tidak bisa.
Tuhan, aku tidak setegar itu untuk menghadapi mereka. Ini berat. Tidak, aku tidak lebay. Aku sadar seharusnya aku tidak mengeluh karena banyak orang yang hidupnya lebih berat dari aku. Tapi, aku capek. Harus menahan tangisan. Menangis sendiri saat tidak ada orang. Tidur agar melupakan segalanya. Kadang aku berpikir ingin mati tapi aku tahu itu dosa. Dan aku juga belum bisa membahagiakan orang tuaku. Sedih sekali jika mereka (orang tuaku) harus kecewa dengan anaknya yang mentalnya sudah loyo.
Catatan Kecil Diri Sendiri #Di ambang Putus asa
Kenapa aku mudah sekali putus asa? Di mana aku menyimpannya?
Kenapa judul dan isinya berbeda? Usahaku menuangkan segala kegilaanku, di mana
sekarang semua itu?apa aku sering menyebutnya sampah, lalu tidak sengaja aku
menghapusnya dan mengganti dengan cerita yang baru. Ceritaku yang baru sama
sekali tidak memiliki kegilaan. Ah sial, aku sudah hampir menjadi gila dan
kegilaanku kini musnah tak tersisa walau satu paragraph saja! Benar-benar sial!
Aku menghabiskan waktu berjam-jam memandangi layar monitor dengan rasa panas di
ujung jari tulunjukku. Semua itu kini sia-sia. Aku menyesal, kenapa aku harus
menundanya selama ini, dan mengapa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi
hingga cerita itu tamat. Bodohnya aku membuat cerita baru dan menurutku itu
norak karena ujung-ujungnya ada sosok ah biarkan hanya aku yang tahu sosok itu,
muncul di ceritaku lagi. Padahal sudah beberapa kali aku tidak memunculkannya
di ceritaku, kini ia dengan tidak sadar muncul dalam ceritaku lagi. Aku tidak
mengerti betapa spesialnya dia hingga setiap ceritaku harus menjadikannya
sebagai tokoh utama, dan naasnya aku selalu menjadi tokoh yang paling menderita
hingga kadang-kadang berujung pada kematian yang aku buat sendiri. Bodoh, iya
aku akui, aku ini bodoh. Kalau aku pintar, mungkin saat ini aku sudah menjadi
seorang ilmuan seperti Albert Einstein atau siapalah yang harus dihafalkan anak
sd sebagai tokoh-tokoh terkenal di setiap pelajarannya itu. Tidak habis pikir
diriku ini.
17/9/16
OMEGAT, GUA UDAH TUA #SEMESTER6
Holla gaes.. di sini pukul 21:51 WIB. Tentu saja malam hari dan aku sedang menikmati wifi kost yang yahut. Nggak nyangka udah jadi anak kost lagi, setelah liburan yang sangat puanjang. Liburan terpanjang selama aku kuliah. Gimana nggak terpanjang coba? yang lain belum libur, aku udah libur. Yang lain mulai libur, aku juga udah libur. Yang lain udah nggak libur, aku masih saja libur. Heuheuheu hingga tiba saatnya, aku pun melihat cintaku yang khianat.... cintaku berkhianat... eaaaa malah nyanyi plakkkk. Ralat, hingga tiba saatnya besok udah mulai kuliah lagi, TIDAAAAKKKKKKK. Mulai menempuh semester tua, TIDAKKKKKKKK | halah lebay | yaudahlahya biarin aja. Next, semester 6 bersahabatlah denganku :}.
Baik aku akan terima semua kepahitan ini, aku tak bisa lagi bersenang-senang, aku harus serius. Ya!! semangat 45. Aku udah nggak mau lagi jadi anak kuliahan, pengen berkarir, bisnisgirl, dan punya banyak duit huahuahua. Aku tahu duit bukan segalanya, tapi di dunia ini realitanya duitlah yang berkuasa. Duit bisa beli keadilan, duit bisa merubah orang bersalah menjadi tak bersalah dan orang tak bersalah menjadi bersalah, duit juga bisa merubah kebenaran menjadi kebohongan. Sesungguhnya aku benci itu. Aku benci hak dan kuasa yang melekat pada benda bernama "duit" itu. Tapi ini fakta, kau tahu aku tidak berbohong karena aku sudah sering melihat kejadian-kejadian yang bisa disebut sebagai kekuasaan duit. ASUdahlah lupakan kejadian yang keji itu, lanjut cerita.
Oiya gaes, aku rasanya nggak sabar nih pengen ketemu temen-temen kuliah aku besok. Udah lama nggak ketemu mereka. Kangen bercanda bareng, makan bareng, gila-gilaan bareng eitsss tapi nggak semua temanku bisa diajak gila-gilaan, maklum kepribadian mereka tidak sama. Ada yang jaim ada yang blak-blakan ada yang frontal, tapi aku sayang mereka semua | uhhh co cwettt | jelas dong.
Oiya mau cerita sedikit nih, kalian ada yang percaya hal-hal yang berbau mistis? memang sih nggak nyambung sama judul tapi aku mau berbagi pengalaman bolehkan? hihihi
Untuk saat ini, diriku yang sekarang memang 50:50 untuk mempercayai hal-hal ghaib semacam itu. Aku yakin semua itu hanyalah halusinasi yang aku alami, meskipun saat aku kecil dulu, saat rumah ayahku belum pindah-pindah aku sering melihat hal-hal semacam itu, nggak cuma sekali-dua kali. Bisa dibilang aku yang paling sering melihat hal begituan di antara keluargaku. Dulu aku penakut sekali, jadi selalu teriak kalau melihatnya. Semakin besar dan dewasa aku mulai tak ada rasa takut dengan yang begituan, aku selalu menepis dan meyakinkan diriku bahwa hal semacam itu hanyalah halusinasi. Hingga akhir-akhir ini malah aku sering sekali melihat hal-hal itu yang selama ini sudah jarang aku lihat. Kenapa ya? setiap kali melihat aku malah penasaran dan aku samperin. Aku juga heran kenapa aku seberani itu? tidak seperti saat aku kecil dulu? berbeda sekali pokoknya. Dan aku masih tetap yakin bahwa yang aku lihat hanya halusinasiku sendiri. Aku percaya bahwa makhluk ghaib itu ada, tapi aku tak percaya mereka sengaja menampakan diri hingga bisa dilihat mata manusia. Menurut kalian gimana?
Baik aku akan terima semua kepahitan ini, aku tak bisa lagi bersenang-senang, aku harus serius. Ya!! semangat 45. Aku udah nggak mau lagi jadi anak kuliahan, pengen berkarir, bisnisgirl, dan punya banyak duit huahuahua. Aku tahu duit bukan segalanya, tapi di dunia ini realitanya duitlah yang berkuasa. Duit bisa beli keadilan, duit bisa merubah orang bersalah menjadi tak bersalah dan orang tak bersalah menjadi bersalah, duit juga bisa merubah kebenaran menjadi kebohongan. Sesungguhnya aku benci itu. Aku benci hak dan kuasa yang melekat pada benda bernama "duit" itu. Tapi ini fakta, kau tahu aku tidak berbohong karena aku sudah sering melihat kejadian-kejadian yang bisa disebut sebagai kekuasaan duit. ASUdahlah lupakan kejadian yang keji itu, lanjut cerita.
Oiya gaes, aku rasanya nggak sabar nih pengen ketemu temen-temen kuliah aku besok. Udah lama nggak ketemu mereka. Kangen bercanda bareng, makan bareng, gila-gilaan bareng eitsss tapi nggak semua temanku bisa diajak gila-gilaan, maklum kepribadian mereka tidak sama. Ada yang jaim ada yang blak-blakan ada yang frontal, tapi aku sayang mereka semua | uhhh co cwettt | jelas dong.
Oiya mau cerita sedikit nih, kalian ada yang percaya hal-hal yang berbau mistis? memang sih nggak nyambung sama judul tapi aku mau berbagi pengalaman bolehkan? hihihi
Untuk saat ini, diriku yang sekarang memang 50:50 untuk mempercayai hal-hal ghaib semacam itu. Aku yakin semua itu hanyalah halusinasi yang aku alami, meskipun saat aku kecil dulu, saat rumah ayahku belum pindah-pindah aku sering melihat hal-hal semacam itu, nggak cuma sekali-dua kali. Bisa dibilang aku yang paling sering melihat hal begituan di antara keluargaku. Dulu aku penakut sekali, jadi selalu teriak kalau melihatnya. Semakin besar dan dewasa aku mulai tak ada rasa takut dengan yang begituan, aku selalu menepis dan meyakinkan diriku bahwa hal semacam itu hanyalah halusinasi. Hingga akhir-akhir ini malah aku sering sekali melihat hal-hal itu yang selama ini sudah jarang aku lihat. Kenapa ya? setiap kali melihat aku malah penasaran dan aku samperin. Aku juga heran kenapa aku seberani itu? tidak seperti saat aku kecil dulu? berbeda sekali pokoknya. Dan aku masih tetap yakin bahwa yang aku lihat hanya halusinasiku sendiri. Aku percaya bahwa makhluk ghaib itu ada, tapi aku tak percaya mereka sengaja menampakan diri hingga bisa dilihat mata manusia. Menurut kalian gimana?
Sahabat? Aku tak Pantas.
Malam gaes. Apa kabar? Baik kan ya??
Malam ini pukul 23.32 WIB. Malam yang tidak begitu dingin seperti sebelum-sebelumnya. Dua sampai tiga hari lalu setiap malam pasti hujan, tapi malam ini syahdu sekali. Hening, dan anehnya aku tidak sedang diiringi musik apa pun. Biasanya kalau aku mau nulis sesuatu pasti ngeplay musik via headset yang bikin kuping budeg. Tapi tidak untuk malam ini, nikmat ternyata hening tanpa musik. Habis, biasanya kalau nggak musikan, rame sih, maklumlah anak kos yang nggak tinggal sendirian di dalam kamar.
Meski aku tadi bilang kalau malam ini syahdu, tapi malam ini membuatku gerah dan dingin di ujung kepala, haduh lebay ya... tapi aku serius, entahlah rasanya nggak karuwan dan aku lelah, muak, dan penat cieeeelaahhh. Jadi gini gaes, aku mau cerita dikit tentang sahabat. Sahabat? apa sih menurut kalian sahabat itu? teman dekatkah? orang terpercayakah? orang yang selalu adakah? atau sebatas kata 'sahabat' dengan simbol manusia yang telah kita kenal lama?
Kalau memang semua tersebut benar, sahabat adalah bla.. bla... bla... sahabat itu bla.. bla.. bla... sahabat itu kaya gini, sahabat itu kaya gitu, sahabat oh sahabat.
Aku merasa kalau aku bukanlah seorang sahabat yang baik. Aku tak pantas bila disebut sebagai sahabat. Aku merasa sangat berat ketika ada seseorang yang menganggapku sahabat. Bagiku sahabat itu hal yang mustahil. Ketika ada yang bilang aku sahabatnya, maka seketika aku harus memosisikan keberadaanku sebagai orang yang paling istimewa, orang yang selalu ada dan membawa solusi ketika yang menganggapku sebagai sehabat memliki masalah. Aku harus bisa dipercaya dan menyembunyikan segala aib orang tersebut. Aku harus menjadi yang terbaik, harus rela mendengar keluh kesahnya setiap saat, harus mau tahu tentang segala hal tentangnya. Jujur aku tak kuat, aku nggak mampu melakukan itu semua meski aku telah mencoba sebisaku. Bukan berarti ketika aku melakukan itu semua aku tidak ikhlas dan terpaksa melakukannya. Hanya saja aku sadar, aku tahu diri dan kumohon jangan sebut aku dengan panggilan sahabat yang bagiku sangat memberatkan itu. Aku tidak bisa jika harus selalu ada, aku punya kesibukkan sendiri dalam hidupku dan entah kenapa aku tidak bisa dengan mudahnya membagi kesibukanku ini dengan orang lain. Kau tahu, aku benci merepotkan orang lain apalagi temanku. Mereka boleh merepotkanku selagi aku masih mampu untuk direpotkan dan selagi aku bisa melakukan kebutuhanku sendiri, maka akan kulakukan sendiri. Ketika ada yang bilang sahabat adalah orang terpercaya maka ini sangat sulit ditemui. Kadang aku sendiri merasa aku adalah orang yang munafik. Jangan pernah mempercayaiku, kadang aku sulit dipercaya. Itu makanya aku juga sulit percaya orang lain, ini kejelekanku. Ada yang bilang aku ini orangnya bisa dipercaya, tidak emberlah, bisa jaga rahasia. Itu semua kebetulan saja, kebetulan sekali kalau aku bisa menjaga rahasia mereka atau aku yang lupa mereka pernah menceritakan rahasianya kepadaku. Ada yang bilang aku adalah sahabat yang baik, sungguh ketika ada yang bilang begitu akau merasa malu pada diriku sendiri. Aku bukanlah sahabat yang baik, kadang aku sering mengedumelkan kalian dengan sahabat yang lain. Ketika aku lelah dengan sikap mereka, aku tidak tahan mengeluh dengan orang lain meski kadang hanya dengan selembar kertas dan pena. Tapi bisa dibilang sering dengan orang lain. Ya aku butuh orang untuk berbagi kesah. Sama halnya ketika orang menganggapku sahabat yang harus siap mendengar keluh kesahnya setiap saat, kadang mereka menceritakan masalah pribadi, kdang menjelek-jelekkan orang lain, kadang ada keirian terhadap orang lain. Aku harus mendengar semua itu dan aku sebenarnya tak sanggup.
Jadi berhentilah menganggapku sahabat. Aku orang yang muna, tidak pantas sama sekali dijadikan sahabat. Saat ini mataku sembab, rongga hidungku mulai basah. Rasanya ingin sekali aku menumpahkan air mata, tapi aku tak boleh melakukan itu. Menangis adalah hal yang paling memalukan di dalam hidupku, aku benci menangis apalagi orang lain melihatnya.
Aku baru saja merasa kehilangan seseorang yang kuanggap sahabat dan aku tidak peduli jika orang itu memiliki pikiran yang sama denganku, pikiran yang enggan dianggap sebagai sahabat, aku tetap menyebutnya sahabat. Ya, aku kehilangan sosoknya yang sudah sangat dekat denganku. Kesalahanku memang, aku tidak memikirkan hal jauh ke depannya bagaimana. Saat itu aku benar-benar egois, ya begitulah aku. Makanya jangan bersahabat denganku. Tapi aku cukup terpukul di berubah sejak kejadian itu. Hingga detik ini aku belum menemukan sosoknya kembali seperti sedia kala. Aku telah melukai seorang sahabat. Aku menghancurkan makna sahabat yang kubuat dengan sangat sempurna dengan menghidupkan konsep sahabat yang buruk.
Sahabatku, aku harap kau membaca ini walau tak mungkin.
Aku kehilanganmu.
Aku tak peduli jika kau enggan berteman denganku lagi, mungkin itu hal yang paling baik.
Meninggalkan orang yang tak baik adalah hal terbaik.
Aku bukan tak menganggapmu sebagai sahabat, kau lebih dari itu.
Kau yang konyol, pemarah, peduli, kadang dingin kini semuanya tak bisa kulihat darimu.
Aku berkali-kali mengatakan maaf, dan kau mebisu.
Kini aku tahu, aku tak pantas menjadi sahabatmu.
Aku terlalu jahat untuk segalanya.
Kalau saja waktu diputar lagi, tepat di mana kejadian itu terjadi
aku yakin aku akan melakukan hal yang sama
dan hasilnya akan sama
Tidak ada yang berubah
Pada akhirnya aku bukan sahabat siapa-siapa
Kau, aku, dan sebongkah keegoan yang berhasil menjauhkanku darimu
Sekali lagi maaf...
Malam ini pukul 23.32 WIB. Malam yang tidak begitu dingin seperti sebelum-sebelumnya. Dua sampai tiga hari lalu setiap malam pasti hujan, tapi malam ini syahdu sekali. Hening, dan anehnya aku tidak sedang diiringi musik apa pun. Biasanya kalau aku mau nulis sesuatu pasti ngeplay musik via headset yang bikin kuping budeg. Tapi tidak untuk malam ini, nikmat ternyata hening tanpa musik. Habis, biasanya kalau nggak musikan, rame sih, maklumlah anak kos yang nggak tinggal sendirian di dalam kamar.
Meski aku tadi bilang kalau malam ini syahdu, tapi malam ini membuatku gerah dan dingin di ujung kepala, haduh lebay ya... tapi aku serius, entahlah rasanya nggak karuwan dan aku lelah, muak, dan penat cieeeelaahhh. Jadi gini gaes, aku mau cerita dikit tentang sahabat. Sahabat? apa sih menurut kalian sahabat itu? teman dekatkah? orang terpercayakah? orang yang selalu adakah? atau sebatas kata 'sahabat' dengan simbol manusia yang telah kita kenal lama?
Kalau memang semua tersebut benar, sahabat adalah bla.. bla... bla... sahabat itu bla.. bla.. bla... sahabat itu kaya gini, sahabat itu kaya gitu, sahabat oh sahabat.
Aku merasa kalau aku bukanlah seorang sahabat yang baik. Aku tak pantas bila disebut sebagai sahabat. Aku merasa sangat berat ketika ada seseorang yang menganggapku sahabat. Bagiku sahabat itu hal yang mustahil. Ketika ada yang bilang aku sahabatnya, maka seketika aku harus memosisikan keberadaanku sebagai orang yang paling istimewa, orang yang selalu ada dan membawa solusi ketika yang menganggapku sebagai sehabat memliki masalah. Aku harus bisa dipercaya dan menyembunyikan segala aib orang tersebut. Aku harus menjadi yang terbaik, harus rela mendengar keluh kesahnya setiap saat, harus mau tahu tentang segala hal tentangnya. Jujur aku tak kuat, aku nggak mampu melakukan itu semua meski aku telah mencoba sebisaku. Bukan berarti ketika aku melakukan itu semua aku tidak ikhlas dan terpaksa melakukannya. Hanya saja aku sadar, aku tahu diri dan kumohon jangan sebut aku dengan panggilan sahabat yang bagiku sangat memberatkan itu. Aku tidak bisa jika harus selalu ada, aku punya kesibukkan sendiri dalam hidupku dan entah kenapa aku tidak bisa dengan mudahnya membagi kesibukanku ini dengan orang lain. Kau tahu, aku benci merepotkan orang lain apalagi temanku. Mereka boleh merepotkanku selagi aku masih mampu untuk direpotkan dan selagi aku bisa melakukan kebutuhanku sendiri, maka akan kulakukan sendiri. Ketika ada yang bilang sahabat adalah orang terpercaya maka ini sangat sulit ditemui. Kadang aku sendiri merasa aku adalah orang yang munafik. Jangan pernah mempercayaiku, kadang aku sulit dipercaya. Itu makanya aku juga sulit percaya orang lain, ini kejelekanku. Ada yang bilang aku ini orangnya bisa dipercaya, tidak emberlah, bisa jaga rahasia. Itu semua kebetulan saja, kebetulan sekali kalau aku bisa menjaga rahasia mereka atau aku yang lupa mereka pernah menceritakan rahasianya kepadaku. Ada yang bilang aku adalah sahabat yang baik, sungguh ketika ada yang bilang begitu akau merasa malu pada diriku sendiri. Aku bukanlah sahabat yang baik, kadang aku sering mengedumelkan kalian dengan sahabat yang lain. Ketika aku lelah dengan sikap mereka, aku tidak tahan mengeluh dengan orang lain meski kadang hanya dengan selembar kertas dan pena. Tapi bisa dibilang sering dengan orang lain. Ya aku butuh orang untuk berbagi kesah. Sama halnya ketika orang menganggapku sahabat yang harus siap mendengar keluh kesahnya setiap saat, kadang mereka menceritakan masalah pribadi, kdang menjelek-jelekkan orang lain, kadang ada keirian terhadap orang lain. Aku harus mendengar semua itu dan aku sebenarnya tak sanggup.
Jadi berhentilah menganggapku sahabat. Aku orang yang muna, tidak pantas sama sekali dijadikan sahabat. Saat ini mataku sembab, rongga hidungku mulai basah. Rasanya ingin sekali aku menumpahkan air mata, tapi aku tak boleh melakukan itu. Menangis adalah hal yang paling memalukan di dalam hidupku, aku benci menangis apalagi orang lain melihatnya.
Aku baru saja merasa kehilangan seseorang yang kuanggap sahabat dan aku tidak peduli jika orang itu memiliki pikiran yang sama denganku, pikiran yang enggan dianggap sebagai sahabat, aku tetap menyebutnya sahabat. Ya, aku kehilangan sosoknya yang sudah sangat dekat denganku. Kesalahanku memang, aku tidak memikirkan hal jauh ke depannya bagaimana. Saat itu aku benar-benar egois, ya begitulah aku. Makanya jangan bersahabat denganku. Tapi aku cukup terpukul di berubah sejak kejadian itu. Hingga detik ini aku belum menemukan sosoknya kembali seperti sedia kala. Aku telah melukai seorang sahabat. Aku menghancurkan makna sahabat yang kubuat dengan sangat sempurna dengan menghidupkan konsep sahabat yang buruk.
Sahabatku, aku harap kau membaca ini walau tak mungkin.
Aku kehilanganmu.
Aku tak peduli jika kau enggan berteman denganku lagi, mungkin itu hal yang paling baik.
Meninggalkan orang yang tak baik adalah hal terbaik.
Aku bukan tak menganggapmu sebagai sahabat, kau lebih dari itu.
Kau yang konyol, pemarah, peduli, kadang dingin kini semuanya tak bisa kulihat darimu.
Aku berkali-kali mengatakan maaf, dan kau mebisu.
Kini aku tahu, aku tak pantas menjadi sahabatmu.
Aku terlalu jahat untuk segalanya.
Kalau saja waktu diputar lagi, tepat di mana kejadian itu terjadi
aku yakin aku akan melakukan hal yang sama
dan hasilnya akan sama
Tidak ada yang berubah
Pada akhirnya aku bukan sahabat siapa-siapa
Kau, aku, dan sebongkah keegoan yang berhasil menjauhkanku darimu
Sekali lagi maaf...
Sore-sore Iki Gengs...
Hello gengs, jumpa lagi bersama saya hehe. Sore-sore gini enaknya minum susu | SUSU? SUSU Siapa?! | Susu sachet #Plakk dasarr Mesum!. Abaikan gengs. Jadi sekarang di tempat indekos gua langit sedang mengalami masa-masa gundah gulana, ya langit sedang menghitam alias mendung dan bimbang mau nurunin hujan apa nurunin jodoh wkwkwk #garing |Biarin. Sekarang langit melimpahkan kegundahannya ke gua gengs, gimana nih. Tiba-tiba gua merasa gundah gulana, bimbang tak tahu arah jalan pulang, eh arah mau nulis apa maksudnya. Hmmmm, bingung gengs seharian di indekos gegara jadwal kuliah sering diobrak-abrik sama dosen. Yak dosen bebaslah berbuat gitu, apalah daya gua yang hanya mahasiswa kupu-kupu mati. Kalian tahu nggak Kupu-kupu mati? ituloh kupu-kupu yang udah nggak hidup. Wkwkwkwk semua orang tahu kaleeee | bercanda deh. Kupu-kupu mati itu kependekan dari kuliah pulang - kuliah pulang - makan - tidur. Ya jadi kalau aku kupu-kupu mati dan nggak ada jadwal kuliah ya jadi kaya gini. GABRUT di indekos Huehuehuehuehue. Tambah buyar gengs mau nulis apaan. Sekarang tiba-tiba keinget emak di rumah huhuhu. Emakkkkkkkkk aku rindu dikau... apakah dikau rindu daku???? | nggak bakal denger keles, telpun gih | eh nggak punya pulsa, gimana dungs | Bodo | #plakkkk. Ya aku rindu ibuku yang berada jauh dariku saat ini. Ibuku berada di rumah, rumahku berada di Kota kecil yaitu kota Kudus. Dan aku sekarang berada di Gunungpati Semaran, cukup jauh lah ya untuk menciptakan rindu di antara kita. Udah gitu minggu kemarin pulang cuma numpang makan sama tidur doang gegara penelitian di Pati. Ya semester ini banyak sekali tuntutan dari Dosen untuk melakukan penelitian. Hiks... nggak sempet berpelukan sama emak | alah biasanya juga nggak pelukan | sekarang luar biasa tauk! | ah masa | vangkelah. Oke gengs gimana kalau kita bahas betapa menakjubkannya dialek yang ada di Indonesia. Indonesia memang memiliki satu bahasa yakni bahasa Indonesia, namun di Indonesia memiliki banyak ragam dialek, contohnya di Pati. Dialek Pati ini setelah saya teliti mengandung unsur kePatian | eh apaan si | kaga tahu wwkwk. Di Pati itu ada tuturan -go, -leh, ngai, dan -nem untuk yang perbatasan dengan Kudus. Ya misalnya, pie go, ojo ngunu leh, ya seperti itulah. HAHAH kok jadi bahas materi kuliah, marai mumet. Wes cekap sementen rumiyin gengs. Soale iki sudah waktunya untuk mandi. Wah gak baek aku iki melakukan perusakan bahasa dengan mencampuradukan seperti iki. Jangan ditiru gengs. Dah ya, bye... salam rindu dariku.
Mimpi si Jomblo
Tadi pas habis salat Subuh aku
bermimpi. Sebuah kejadian yang sangat indah. Kalau aku bisa aku masih ingin
melanjutkan mimpi itu, tapi aku terlanjur bangun karena temanku membangunkanku.
Akan aku ceritakan bagaimana
indahnya mimpi seorang jomblo :P
Di dalam mimpiku aku sedang
berdiri bersama seorang teman yang tidak aku ketahui siapa. Kami berdua berdiri
di depan sebuah rumah yang cukup besar, teman-temanku yang lain duduk di
halaman rumah itu, jumlah mereka sangat banyak. Aku dan temanku yang berdiri memakai
baju putih dan rok hitam. Hanya kami berdua yang berdresscode seperti itu. Aku
tidak tahu kami sedang apa di rumah itu saat itu, aku hanya melihat di dalam
rumah besar itu banyak anak-anak kecil. Kukira mereka sedang melakukan buka
bersama. Nah yang bagian ini aneh, masa aku nyuri sepasang sandal dari rumah
itu. wkkk heran, ngapain coba tapi namanya juga mimpi kan ya. Sandal itu aku
ambil, aku pake tapi aku kembalikan lagi. Ini benar-benar gaje.
Anak-anak yang ada di dalam rumah
itu keluar meninggalkan rumah membawa kardusan yang sepertinya nasi kotak.
Setelah mereka pergi, aku dan rombonganku siap-siap ikut pergi. nah sampai sini
akhirnya aku tahu keberadaanku dan rombongaku itu ternyata menyumbang sebuah
dana pada yayasan. Wah di sini bijak banget mimpi gua wkwkwkwkw. Saat aku
bersiap-siap akan pergi,uhuuyyy di sini yang gua suka. Seorang anak kecil dan
laki-laki seumuranku memperhatikan aku dari kejauhan. Kulihat mereka sedang
berbisik-bisik. Aku dan temanku yang tadi berdiri denganku mengabaikan saja
karena merasa tidak kenal dengan mereka. Saat aku benar-benar mau pergi,
seorang anak kecil itu yang berjenis kelamin perempuan dengan rambut kriwil dan
baju merah menghampiriku. Ternyata ia menyuruhku untuk menunaikan ibadah salat
Ashar di rumah itu. nah kok salat ashar ya, kirain waktu itu maghrib. Ah
entahlah aku juga bingung. Kemudian aku bertanya pada rombonganku tentang
tawaran anak itu, tapi rombonganku tetap ingin melanjutkan perjalanan. Nah
sebenarnya aku sedih juga karena tidak bisa melihat anak laki-laki yang
melihatku tadi. Dia itu ganteng, mancung, putih, kulitnya bersih, berpeci dan
bersarung. Uuhh pokoknya idaman banget deh. Terpaksa aku pergi bersama
rombonganku entah kemana.
Aku dan rombonganku melanjutkan
perjalanan dengan jalan kaki. Sebenarnya aku bingung rombongan apa sih ini? Di
tengah perjalann seorang anak kecil memanggilku dari jauh. Aku pun menoleh
melihat siapa yang memanggil-manggil, ternyata anak kecil tadi. Dia berlari
mendekatiku. Sambil terengah-engah ia berdiri di hadapanku dan memintaku untuk
berhenti sejenak. Aku bingung, ada apa? Beberapa saat kemudian seorang
laki-laki yang tadi memperhatikanku datang. Dia tampan sekali, hidungnya
mancung, kulitnya putih, matanya lentik. MasyaAllah, benar-benar wajah yang
sempurna. Ia mengenakan baju koko, bersarung dan berpeci. Aku gugup dan senang,
sebenarnya ada apa? Laki-laki itu kemudian berbicara. Ia memintaku untuk
menjadi jodohnya. WOW… siapa yang mau nolak? Aku speechless saat itu. Dengan
malu-malu aku mengiyakan semuanya. Setelah itu aku bangun dari tidur. Ah sial.
Aku berharap mimpiku adalah pertanda di mana jodohku sudah mendekat. Aamiin Ya
Allah.
Ahad 28 Mei 2017, Latepost
Ahad
28 Mei 2017. Hari kedua puasa di tahun 2017. Aku akan menceritakan kejadian
yang aku alami hari ini. Entah aku harus bahagia atau biasa saja, sebenarnya
aku juga bingung karena di sisi lain aku merasa biasa saja tapi ada sedikit
bahagianya, haduh gimana sih itu, bingungkan? Sama… saya juga. Jadi gini, biar
kuawali dengan bismillah, bismillahirrahmanirrahim. Mungkin ini sebuah tanda
atau apa aku kurang paham, hariku diawali dengan mimpi buruk. Aku mimpi
dirubungin hantu-hantu. Mungkin ini efek dari aku nonton film horror yang
berjudul Sinister yang aku tonton tadi malam sama adikku, jadi sampai kebawa
mimpi. Eits.. tapi hantu di mimpiku ini beda sama yang di film lho. Jadi di
dalam mimpi itu aku sedang berangkat salat teraweh sendirian, settingnya itu di
rumahnya nenekku. Rumah nenekku ini terletak di sebuah pedesaan yang masih
berdekatan dengan alas. Tapi alas di dalam mimpiku lebih horor dari pada alas
yang sebenarnya. Alas di dalam mimpiku terdapat rumah kosong yang terkenal
dengan banyak penunggunya. Waktu aku berangkat teraweh aku lewatnya itu jalan
depan pondokan yang berada di dekat rumahku. Aneh ya, kenapa dari rumahku bisa
langsung tembus ke rumah nenekku. Namanya juga mimpi, hal yang absurd bisa
terjadi begitu saja.
Pas
aku berangkat aku tidak bertemu dengan sosok menyeramkan, justru aku bertemu
dengan para santri dari pondokan yang juga ingin berangkat teraweh. Namun
ketika aku pulang dari salat teraweh, aku melewati alas yang sudah aku
ceritakan tadi. Aku menemui seorang anak kecil sedang berdiri di sebuah rumah
kosong. Kulihat ia sedang ngobrol dengan seseorang di dalam rumah yang tak
kulihat sosoknya. Tiba-tiba si anak memanggil nama mbak kunti… mbak kunti… pada
yang diajak ngobrol. Otomatis aku ketakutan. Kulihat arah di mana anak itu memanggil
dan benar aku melihat sosok kunti itu. Ia berbaju serba putih dengan rambut
panjangnya yang tidak berkilau, seandainya berkilau pasti si mbak kunti ini
ditawarin buat jadi iklan shampoo. Pas aku ketakutan aku menarik anak tadi
supaya pergi bersamaku. Aku pun membawanya pergi dari sana menuju rumah
nenekku. Setelah itu aku lupa mimpinya. Yang aku ingat meski samar-samar, di
akhir-akhir aku itu dirubungin banyak hantu bermuka jelek, kayaknya hantu emang
nggak ada yang cakep deh. Udah itu terus aku bangun kalau nggak salah. Pas
bangun tidur, aduhh badanku rasanya sakit karena sebelum tidur aku minta
dikerokin dulu sama ibukku. Iya waktu itu aku sedikit kurang fit.
Kenapa
jadi ngomongin mimpi hantu ya? Hmm gapapa lah ya itung-itung manjangin nih
tulisan. Jadi siangnya itu aku balik ke Semarang buat kembali jadi anak kost.
Aku berangkat dari rumah itu pukul set.2. Naik bus jurusan Semarang bareng dua
temenku. Mereka itu badannya tinggi tapi masih ada yang lebih tinggi, dan badan
mereka lebih lebar dari aku, jadi aku manggil mereka dengan sebutan cilik,
aslinya gue juga kecil sih, tapi lebih kecil mereka hhahahaha bangganya.
Balik
ke cerita. Jadi, itu bis ngeselin banget. Padahal biasanya kan aku kalau naik
bis jurusan Semarang itu turunnya di dalam Terimal Terboyo, tepat di depan
halte BRT Semarang. Tapi hari ini, pertama kalinya aku naik bus dan Cuma
berhenti di depan terminal. Gila nggak, halte BRT itu jauh dari sana. Udah
puasa-puasa, panas, mau nggak mau harus jalan kaki dong ke haltenya. Ehh nggak
boleh ngeluh ya, tapi aku pas nulis ini udah malem kok, jadi udah batal
puasanya. Tapi tetep aja nggak boleh ngeluh aslinya. Iya deh iya.
Lanjuttt.
Aku sama dua temenku itu jalan ke halte melewati jalanan yang ramai sekali
dengan kendaraan, hingga kami pun harus berlari-lari ria agar tidak tertabrak
kendaraan lain dikarenakan banyak genanagan
air yang menutupi jalan hingga ke tengah. Kalau nggak lari ya bisa
ketabrak. Sesampainya di halte pas sekali sama BRT yang datang, tapi kami di
tolak karena penumpang terlalu penuh, hadeh nasib. Yasudah kami menunggu bus
berikutnya. Nah ini nih inti cerita ini. Aku dan teman-temanku masuk ke dalam
bus. Di dalam sana, uhhh sesak-sesakkan, muntel banget. Aku langsung menuju ke
bagian belakang bus karena memang seperti itu aturannya, yang belakang harus
diisi dulu. Bus pun melaju dengan santai karena jalanan macet sekali. Aku
melihat ke arah depan dan aku melihat… siapa hayoo?? Kali ini yang kulihat
bukan mbak kunti atau teman-temannya karena aku sudah bangun dari tidurku.
Aku
melihat sosok yang pernah mengisi ruang hatiku di masa lalu. Nah lho hahaha
jangan baper ya. Kalau kalian pernah membaca cerpenku yang berjudul Can’t
Called Love yang sudah aku post di blogkku yang satunya, kalian akan tahu orang
di cerpen itu adalah orang yang sama yang sedang aku lihat di dalam bus.
Menurut kalian aku senang apa biasa saja? Nah aku juga bingung, senang tapi
biasa aja sih, sok cool gitu padahal aslinya….uhhh. Awalnya aku nggak yakin kalau dia itu adalah
sebut saja s. kemudian aku perhatikan dari rambut, bentuk punggung, warna kulit
dan akhirnya aku yakin kalau itu adalah s. Ditambah ketika dia menoleh ke
samping. Iya, aku melihat wajahnya dan 100 % benar dia itu s. Pas aku tahu
kalau dia itu s, langsung aku lihat terus. Soalnya ketika kamu melihat
seseorang secara terus menerus terkadang orang yang dilihat itu akan merasa dan
akhirnya akan melihat ke kita juga. Tapi hari ini teori tersebut tidak berlaku
untukku. Aku sudah melihatnya namun ia tidak melihat ke arahku, menoleh ke
belakang aja tidak, malah ke samping mulu. Sebel sih tapi mau gimana lagi. Dalam
hati aku berdoa agar dia turunnya masih lama, kalau bisa turunnya setelah aku
turun, kan biar aku bisa melihatnya dari arah dekat ketika aku keluar dari
pintu bus. Tapi sial, dia justru turun di halte berikutnya. Masih saja aku
lihatin terus, padahal masker wajahku sudah aku lepas supaya dia bisa
mengenaliku. Hingga ia keluar halte aku masih saja terus menatapnya hingga tak
bisa lagi kulihat dia. Ouhhhh malangnya diriku. Dulu, ketika aku masih
menyukainya, sekarang aku nggak tahu masih suka apa nggak. Aku pernah berharap
bahwa kami akan berjumpa di dalam bus yang sama. Mungkin Tuhan hanya ingin aku
yang melihatnya dari jauh tanpa dilihat kembali, yasudah lah ya mau gimana lagi
kalau sudah terjadi.
Bus
yang kunaiki melanjutkan pernajalannnya hingga aku sampai di kos. Yang
kudapatkan sekarang adalah pusing karena tadi aku nggak bisa minum ant*mo pas
mau berangkat dan juga lapar karena aku tadi berbuka dengan makanan yang diberi
adek kos. Niatnya aku mau beli karena aku tidak membawa makanan dari rumah,
tapi aku ditawarin yasudah lumayan juga. Nah sekarang aku bingung besok mau
sahur pakai apa. Tadi temanku yang lainnya mengajak keluar untuk mencari lauk
tapi karena kemaleman jadinya aku mager dan memutuskan untuk membuat mie saja
besok. Aku juga sudah menanak nasi karena tanpa nasi, makanan yang kumakan
tidak berasa di perut. Sudah dulu ceritaku karena kepalaku nyut-nyuttan dan
mataku kelihatannya sudah merah saatnya diriku untuk membaringkan tubuh dan
melanjutkan mimpi, tapi bukan mimpiku yang tentang hantu, mimpi yang indah
saja. Untuk kalian semua yang belum tidur, tidurlah siapa tahu besoknya bisa
bertemu jodoh hahahaha.
Punggungmu Saja Cukup
Latepost ya.
Ahad
28 Mei 2017. Hari kedua puasa di tahun 2017. Aku akan menceritakan kejadian
yang aku alami hari ini. Entah aku harus bahagia atau biasa saja, sebenarnya
aku juga bingung karena di sisi lain aku merasa biasa saja tapi ada sedikit
bahagianya, haduh gimana sih itu, bingungkan? Sama… saya juga. Jadi gini, biar
kuawali dengan bismillah, bismillahirrahmanirrahim. Mungkin ini sebuah tanda
atau apa aku kurang paham, hariku diawali dengan mimpi buruk. Aku mimpi
dirubungin hantu-hantu. Mungkin ini efek dari aku nonton film horror yang
berjudul Sinister yang aku tonton tadi malam sama adikku, jadi sampai kebawa
mimpi. Eits.. tapi hantu di mimpiku ini beda sama yang di film lho. Jadi di
dalam mimpi itu aku sedang berangkat salat teraweh sendirian, settingnya itu di
rumahnya nenekku. Rumah nenekku ini terletak di sebuah pedesaan yang masih
berdekatan dengan alas. Tapi alas di dalam mimpiku lebih horor dari pada alas
yang sebenarnya. Alas di dalam mimpiku terdapat rumah kosong yang terkenal
dengan banyak penunggunya. Waktu aku berangkat teraweh aku lewatnya itu jalan
depan pondokan yang berada di dekat rumahku. Aneh ya, kenapa dari rumahku bisa
langsung tembus ke rumah nenekku. Namanya juga mimpi, hal yang absurd bisa
terjadi begitu saja.
Pas
aku berangkat aku tidak bertemu dengan sosok menyeramkan, justru aku bertemu
dengan para santri dari pondokan yang juga ingin berangkat teraweh. Namun
ketika aku pulang dari salat teraweh, aku melewati alas yang sudah aku
ceritakan tadi. Aku menemui seorang anak kecil sedang berdiri di sebuah rumah
kosong. Kulihat ia sedang ngobrol dengan seseorang di dalam rumah yang tak
kulihat sosoknya. Tiba-tiba si anak memanggil nama mbak kunti… mbak kunti… pada
yang diajak ngobrol. Otomatis aku ketakutan. Kulihat arah di mana anak itu memanggil
dan benar aku melihat sosok kunti itu. Ia berbaju serba putih dengan rambut
panjangnya yang tidak berkilau, seandainya berkilau pasti si mbak kunti ini
ditawarin buat jadi iklan shampoo. Pas aku ketakutan aku menarik anak tadi
supaya pergi bersamaku. Aku pun membawanya pergi dari sana menuju rumah
nenekku. Setelah itu aku lupa mimpinya. Yang aku ingat meski samar-samar, di
akhir-akhir aku itu dirubungin banyak hantu bermuka jelek, kayaknya hantu emang
nggak ada yang cakep deh. Udah itu terus aku bangun kalau nggak salah. Pas
bangun tidur, aduhh badanku rasanya sakit karena sebelum tidur aku minta
dikerokin dulu sama ibukku. Iya waktu itu aku sedikit kurang fit.
Kenapa
jadi ngomongin mimpi hantu ya? Hmm gapapa lah ya itung-itung manjangin nih
tulisan. Jadi siangnya itu aku balik ke Semarang buat kembali jadi anak kost.
Aku berangkat dari rumah itu pukul set.2. Naik bus jurusan Semarang bareng dua
temenku. Mereka itu badannya tinggi tapi masih ada yang lebih tinggi, dan badan
mereka lebih lebar dari aku, jadi aku manggil mereka dengan sebutan cilik,
aslinya gue juga kecil sih, tapi lebih kecil mereka hhahahaha bangganya.
Balik
ke cerita. Jadi, itu bis ngeselin banget. Padahal biasanya kan aku kalau naik
bis jurusan Semarang itu turunnya di dalam Terimal Terboyo, tepat di depan
halte BRT Semarang. Tapi hari ini, pertama kalinya aku naik bus dan Cuma
berhenti di depan terminal. Gila nggak, halte BRT itu jauh dari sana. Udah
puasa-puasa, panas, mau nggak mau harus jalan kaki dong ke haltenya. Ehh nggak
boleh ngeluh ya, tapi aku pas nulis ini udah malem kok, jadi udah batal
puasanya. Tapi tetep aja nggak boleh ngeluh aslinya. Iya deh iya.
Lanjuttt.
Aku sama dua temenku itu jalan ke halte melewati jalanan yang ramai sekali
dengan kendaraan, hingga kami pun harus berlari-lari ria agar tidak tertabrak
kendaraan lain dikarenakan banyak genanagan
air yang menutupi jalan hingga ke tengah. Kalau nggak lari ya bisa
ketabrak. Sesampainya di halte pas sekali sama BRT yang datang, tapi kami di
tolak karena penumpang terlalu penuh, hadeh nasib. Yasudah kami menunggu bus
berikutnya. Nah ini nih inti cerita ini. Aku dan teman-temanku masuk ke dalam
bus. Di dalam sana, uhhh sesak-sesakkan, muntel banget. Aku langsung menuju ke
bagian belakang bus karena memang seperti itu aturannya, yang belakang harus
diisi dulu. Bus pun melaju dengan santai karena jalanan macet sekali. Aku
melihat ke arah depan dan aku melihat… siapa hayoo?? Kali ini yang kulihat
bukan mbak kunti atau teman-temannya karena aku sudah bangun dari tidurku.
Aku
melihat sosok yang pernah mengisi ruang hatiku di masa lalu. Nah lho hahaha
jangan baper ya. Kalau kalian pernah membaca cerpenku yang berjudul Can’t
Called Love yang sudah aku post di blogkku yang satunya, kalian akan tahu orang
di cerpen itu adalah orang yang sama yang sedang aku lihat di dalam bus.
Menurut kalian aku senang apa biasa saja? Nah aku juga bingung, senang tapi
biasa aja sih, sok cool gitu padahal aslinya….uhhh. Awalnya aku nggak yakin kalau dia itu adalah
sebut saja s. kemudian aku perhatikan dari rambut, bentuk punggung, warna kulit
dan akhirnya aku yakin kalau itu adalah s. Ditambah ketika dia menoleh ke
samping. Iya, aku melihat wajahnya dan 100 % benar dia itu s. Pas aku tahu
kalau dia itu s, langsung aku lihat terus. Soalnya ketika kamu melihat
seseorang secara terus menerus terkadang orang yang dilihat itu akan merasa dan
akhirnya akan melihat ke kita juga. Tapi hari ini teori tersebut tidak berlaku
untukku. Aku sudah melihatnya namun ia tidak melihat ke arahku, menoleh ke
belakang aja tidak, malah ke samping mulu. Sebel sih tapi mau gimana lagi. Dalam
hati aku berdoa agar dia turunnya masih lama, kalau bisa turunnya setelah aku
turun, kan biar aku bisa melihatnya dari arah dekat ketika aku keluar dari
pintu bus. Tapi sial, dia justru turun di halte berikutnya. Masih saja aku
lihatin terus, padahal masker wajahku sudah aku lepas supaya dia bisa
mengenaliku. Hingga ia keluar halte aku masih saja terus menatapnya hingga tak
bisa lagi kulihat dia. Ouhhhh malangnya diriku. Dulu, ketika aku masih
menyukainya, sekarang aku nggak tahu masih suka apa nggak. Aku pernah berharap
bahwa kami akan berjumpa di dalam bus yang sama. Mungkin Tuhan hanya ingin aku
yang melihatnya dari jauh tanpa dilihat kembali, yasudah lah ya mau gimana lagi
kalau sudah terjadi.
Bus
yang kunaiki melanjutkan pernajalannnya hingga aku sampai di kos. Yang
kudapatkan sekarang adalah pusing karena tadi aku nggak bisa minum ant*mo pas
mau berangkat dan juga lapar karena aku tadi berbuka dengan makanan yang diberi
adek kos. Niatnya aku mau beli karena aku tidak membawa makanan dari rumah,
tapi aku ditawarin yasudah lumayan juga. Nah sekarang aku bingung besok mau
sahur pakai apa. Tadi temanku yang lainnya mengajak keluar untuk mencari lauk
tapi karena kemaleman jadinya aku mager dan memutuskan untuk membuat mie saja
besok. Aku juga sudah menanak nasi karena tanpa nasi, makanan yang kumakan
tidak berasa di perut. Sudah dulu ceritaku karena kepalaku nyut-nyuttan dan
mataku kelihatannya sudah merah saatnya diriku untuk membaringkan tubuh dan
melanjutkan mimpi, tapi bukan mimpiku yang tentang hantu, mimpi yang indah
saja. Untuk kalian semua yang belum tidur, tidurlah siapa tahu besoknya bisa
bertemu jodoh hahahaha.
Langganan:
Postingan (Atom)
